IDENTITAS
Nama :
Habib Asy Muhyi
NIM :
72154036
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Peran Hati dalam Tasawuf, Metode Tazkiyah al-nafs
BUKU
Identitas
Buku : Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan:
Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Peran Hati dalam
Tasawuf
Sub 2 : Metode
Tazkiyah al-nafs
A. Peran Hati dalam Tasawuf
Makna
al-qalbu (hati) lebih menunjuk kepada aspek ruhani, bukan materi yang berfungsi mengenal segala
sesuatu dan mampu merefleksikan sesuatu seperti cermin yang memantulkan sebuah
gambar. Kemampuan qalb dalam merefleksikan suatu hakikat tergantung pada sifat
qalb, sesuai pengaruh inderawi, syahwat, kemaksiatan, dan cinta. Sepanjang hati
itu bersih dari kendala-kendala yang dapat menutupinya, maka hati dapat
menangkap hakikat yang ada.
Mayoritas
sufi menilai bahwa akal manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah Swt, dan
Al-quran menjelaskan bahwa kelemahan akal bisa ditutupi hati yang damai. Dalam
Q.S al-Syu’ara/26:89, disebutkan “kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang damai” Dalam Q.S
al-Shaffat/37:84, disebutkan “(ingatlah)
ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang damai”. Jadi, hati yang
damai (biqalb sdalim) mampu datang dan menghadap kepada Allah Swt. (Ja’far: 2016 hal 35).
Untuk
mensucikan hati haruslah ia bebani dengan amal-amal ibadah, dzikir, tasbih,
tahlil dan sebagainya. Sesuai dengan cara yang ditentukan oleh nash Al-Qur’an
dan Hadis. Disamping ibadah yang merupakan inti hubungan manusia dengan Tuhan,
hati juga dibebani dengan akhlak-akhlak yang terpuji dan dikosongkan dari
kejahatan . Bila hati mengamalkan segala bentuk ibadah, baik yang wajib maupun
sunnat dan dikerjakan dengan penuh khusyuk dan ikhlas, serta menjalankan yang
terpuji dan menjauhi yang tercela niscaya berhaklah ia menerima ridha ilahi.
B. Metode Tazkiyah al-nafs
Metode Tazkiyah al-nafs atau Irfani merupaka metode kaum sufi dalam islam yang
mengandalkan aktivitas penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.,
dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan kepada sosok
yang maha mengetahui (al-Alim), bukan dengan metode observasi dan eksperimen
atau juga metode rasional. Diantara kaum sufi terkemuka yang memiliki keyakinan
tersebut adalah al-Ghazali (w.1111), Ibn ‘Arabi’ (w.1640). Meskipun menyakini
keunggulan metode irfani ketimbang metodeilmiah lainnya, keempat sufi tersebut
memiliki sejumlah perbedaaan mengenai metode tersebut. (Ja’far: 2016 hal 40).
Tujuan utama Tazkiyat Al-Nafs yaitu untuk menyeimbangkan antara ibadah,
adat dan akhlak manusia. Diperlukan beberapa cara untuk memperbaiki ketiganya,
agar keseimbangan dapat tercapai. Beberapa metode untuk memperoleh akhlak yang
baik. Pertama, mengharapkan kemurahan Allah. Kedua, bersusah payah melakukan
segala kebaikan sehingga menjadi kebiasaan dan sesuatu yang menyenangkan, dan
yang ketiga sering bergaul dengan orang-orang yang shaleh. Metode-metode
tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa sarana Tazkiyat Al-Nafs
diantaranya yaitu tauhid, taubat, sholat, sedekah atau zakat dan infaq, puasa,
haji, tilawah Al-Qur’an, zikir, tafakkur, mengingat kematian, muraqabah, dll.
Kesimpulan
Hati adalah hakekat manusia yang
dapat menangkap segala pengertian, pengetahuan dan arif, yaitu manusia yang
menjadi sasaran dari segala perintah dan larangan Tuhan, yang akan disiksa,
dicela dan dituntut segala amal perbuatannya. Jiwa adalah harta yang tiada
ternilai mahalnya. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin.
Itulah kekayaan sejati. Jiwa yang tersucikan merupakan
jiwa-jiwa yang memilik akhlak sesuai apa yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an
dan hadist, dan teladan utamanya yaitu Nabi Muhammad SAW.
Relevansi
dengan Bidang
Dalam ilmu
tasawuf kita harus menerapkan konsep hati yang suci untuk bisa memahami
pembelajaran pemrograman. Belajar pemrograman komputer itu tebilang sulit, jika
hati tidak suci maka sulit untuk memahami logika pemrogramannya, hanya saja
ilmu itu sekedar masuk setelah itu keluar dan tidak masuk kehati.