Senin, 31 Oktober 2016

EPISTEMOLOGI TASAWUF : Peran Hati dalam Tasawuf dan Metode Tazkiyah al-nafs


IDENTITAS
            Nama                           : Habib Asy Muhyi
            NIM                            : 72154036
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Peran Hati dalam Tasawuf, Metode Tazkiyah al-nafs

           
BUKU                                               
Identitas Buku                   : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)

Sub 1 : Peran Hati dalam Tasawuf
Sub 2 : Metode Tazkiyah al-nafs

A. Peran Hati dalam Tasawuf
Makna al-qalbu (hati) lebih menunjuk kepada aspek ruhani,  bukan materi yang berfungsi mengenal segala sesuatu dan mampu merefleksikan sesuatu seperti cermin yang memantulkan sebuah gambar. Kemampuan qalb dalam merefleksikan suatu hakikat tergantung pada sifat qalb, sesuai pengaruh inderawi, syahwat, kemaksiatan, dan cinta. Sepanjang hati itu bersih dari kendala-kendala yang dapat menutupinya, maka hati dapat menangkap hakikat yang ada.
Mayoritas sufi menilai bahwa akal manusia tidak mampu mencapai hakikat Allah Swt, dan Al-quran menjelaskan bahwa kelemahan akal bisa ditutupi hati yang damai. Dalam Q.S al-Syu’ara/26:89, disebutkan “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang damai” Dalam Q.S al-Shaffat/37:84, disebutkan “(ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang damai”. Jadi, hati yang damai (biqalb sdalim) mampu datang dan menghadap kepada Allah Swt. (Ja’far: 2016 hal 35).

Untuk mensucikan hati haruslah ia bebani dengan amal-amal ibadah, dzikir, tasbih, tahlil dan sebagainya. Sesuai dengan cara yang ditentukan oleh nash Al-Qur’an dan Hadis. Disamping ibadah yang merupakan inti hubungan manusia dengan Tuhan, hati juga dibebani dengan akhlak-akhlak yang terpuji dan dikosongkan dari kejahatan . Bila hati mengamalkan segala bentuk ibadah, baik yang wajib maupun sunnat dan dikerjakan dengan penuh khusyuk dan ikhlas, serta menjalankan yang terpuji dan menjauhi yang tercela niscaya berhaklah ia menerima ridha ilahi.

B. Metode Tazkiyah al-nafs
Metode Tazkiyah al-nafs atau Irfani merupaka metode kaum sufi dalam islam yang mengandalkan aktivitas penyucian jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., dan menilai bahwa ilmu hakiki hanya diraih dengan cara mendekatkan kepada sosok yang maha mengetahui (al-Alim), bukan dengan metode observasi dan eksperimen atau juga metode rasional. Diantara kaum sufi terkemuka yang memiliki keyakinan tersebut adalah al-Ghazali (w.1111), Ibn ‘Arabi’ (w.1640). Meskipun menyakini keunggulan metode irfani ketimbang metodeilmiah lainnya, keempat sufi tersebut memiliki sejumlah perbedaaan mengenai metode tersebut. (Ja’far: 2016 hal 40).

Tujuan utama Tazkiyat Al-Nafs yaitu untuk menyeimbangkan antara ibadah, adat dan akhlak manusia. Diperlukan beberapa cara untuk memperbaiki ketiganya, agar keseimbangan dapat tercapai. Beberapa metode untuk memperoleh akhlak yang baik. Pertama, mengharapkan kemurahan Allah. Kedua, bersusah payah melakukan segala kebaikan sehingga menjadi kebiasaan dan sesuatu yang menyenangkan, dan yang ketiga sering bergaul dengan orang-orang yang shaleh. Metode-metode tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa sarana Tazkiyat Al-Nafs diantaranya yaitu tauhid, taubat, sholat, sedekah atau zakat dan infaq, puasa, haji, tilawah Al-Qur’an, zikir, tafakkur, mengingat kematian, muraqabah, dll.

Kesimpulan
           
           Hati adalah hakekat manusia yang dapat menangkap segala pengertian, pengetahuan dan arif, yaitu manusia yang menjadi sasaran dari segala perintah dan larangan Tuhan, yang akan disiksa, dicela dan dituntut segala amal perbuatannya. Jiwa adalah harta yang tiada ternilai mahalnya. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekayaan sejati. Jiwa yang tersucikan merupakan jiwa-jiwa yang memilik akhlak sesuai apa yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadist, dan teladan utamanya yaitu Nabi Muhammad SAW.

Relevansi dengan Bidang

           Dalam ilmu tasawuf kita harus menerapkan konsep hati yang suci untuk bisa memahami pembelajaran pemrograman. Belajar pemrograman komputer itu tebilang sulit, jika hati tidak suci maka sulit untuk memahami logika pemrogramannya, hanya saja ilmu itu sekedar masuk setelah itu keluar dan tidak masuk kehati.



Minggu, 16 Oktober 2016

Definisi Tasawuf, hierarki,tujuannya dan penerapan akhlak tasawuf dalam program studi sistem informasi


       IDENTITAS
    Nama                      : Habib Asy Muhyi
    NIM                        : 72154036
    Prodi/Sem.              : Sistem Informasi-2 / III
    Fakultas                  : Sains dan Teknologi
    Perguruan Tinggi   : UIN Sumatera Utara
    Dosen Pengampu    : Dr. Ja’far, MA
    Matakuliah             : Akhlak Tasawuf

TEMA                         : Definisi, Hierarki, dan Tujuan
   
BUKU               
Identitas Buku            : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
     

  Sub 1 : Definisi Tasawuf

Dalam kitab Kasyf al-mahjub,al- hujwiri telah menjelaskan asal usul kata   tasawuf, yaitu:
1.   Al-shuf, yang berarti wol, karena kaum sufi mengenakan jubah yang terbuat dari bulu domba.
2.  Al-shaf, yaitu barisan pertama yang bermakna bahwa kaum sufi berada pada barisan pertama didepan tuhan,kecenderungan hati mereka terhadapnya dan tinggalnya bagian-bagian rahasia dalam diri mereka di hadapannya.
3.  Ahl Al-shuffah, para sufi mengakui golongan ini karena  di ridhai allah. Mereka disebut sufi karena  sifat-sifat mereka menyamai sifat orang-orang yang tinggal di serambi masjid yang hidup pada masa nabi muhammmad SAW.
4.  Al-shafa, yang artinya kesucian, para sufi telah mensucikan akhlak mereka dari noda-noda bawaan, karena kemurnian hati dan kebersihan tindakan nya. Mereka menjaga moral,mensucikan diri dari kejahatan dan meninggalkan keinginan dunianya.

Dapat di simpulkan bahwa tasawuf adalah suatu tindakan untuk mendekatkan diri kepada Allah yang harus berhubungan langsung kepadanya dengan cara tekun dalam beribadah, tawakal kepada allah,menjauhkan diri dari kemewahan dunia dan membersihkan jiwa dari kejahatan.


   Sub 2 :  Tasawuf Dalam Hierarki Ilmu-ilmu Islam

     Ada banyak pendapat mengenai ilmu-ilmu islam, salah satunya ialah Ibn Khaldun yang membagi ilmu menjadi dua, Ilmu-ilmu hikmah dan Filsafat. Yaitu  ilmu yang diperoleh dengan akal manusia, dan ilmu yang diajarkan dan ditransformasikan yang bersumber kepada syariat islam (Al-qur’an dan Hadist), Ibn Khaldun mengkatagorikan tasawuf sebagai salah satu dari beragam ilmu –ilmu syariah.

      Menurut Al-Taftazani, dari abad ke 3-4 hijiriah aliran tasawuf itu  ada  Sunni dan Falsafi. Sunni itu aliran yang memagari pengikutnya dengan Al-quran dan Hadist dan Falsafi aliran yang cenderung kepada ungkapan-ungkapan ganjil,memadukan antara visi mistis dan visi rasional yang banyak menggunakan  terminologi filosofis, bahkan ajaran filsafat.


   Sub 3 :   Tujuan Tasawuf

Di dalam ilmu tasawuf seorang muslim tidak bisa hanya menjalankan al-islam dan al-ilman, tetapi harus juga merealisasikan  al-ihsan yang hierarkinya paling tinggi. Jadi, al-quran dan hadist menghendaki umat islam dapat memantapkan ketauhidan dan ibadah dalam kerangka al-ihsan.

Tujuan akhir mempelajari akhlak tasawuf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membentuk sifat mulia  dalam rangka mencapai ridhanya Allah. Sifat mulia ini dalam bentuk pembersihan jiwa dan perjalanan spriritualnya. Namun tasawuf tidak boleh melanggar apa yang telah jelas diatur oleh Al-quran dan As-sunnah, baik dalam aqidah, pemahaman maupun tata cara yang dilakukan.  


   Relevansi Dengan Bidang Sistem Informasi 
Dalam ilmu sistem informasi banyak Programmer yang bisa menciptakan atau mendevelop banyak software yang bagus bagus. Merancang sistem software akuntansi yang tampaknya bagus, aplikasi macem-macem, dan lain-lain. Tapi menciptakan sebuah aplikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh customer itu sangatlah sulit. Perlu orang yang memiliki kemampuan analisis tajam. Perlu orang yang memiliki jiwa penjelajahan terhadap logika berpikirnya. Perlu orang yang bisa menjiwai pekerjaan customer. Dan orang-orang yang bisa berpikir demikian sangat sedikit. Dari 100 programmer bisa jadi tidak sampai 10 yang bisa melaksanakan demikian. Kenapa bisa seperti itu ? karena mungkin saja usahanya suadah maksimal, baik itu dalam belajar ilmu progamming maupun logikanya dalam coding. Tetapi, mereka tidak tawakal kepada allah .jdi, kita harus berserah diri kepada Allah dengan berdoa. Allah akan memberikan kemudahan dalam berfikir , setiap kita berusaha dengan sungguh-sungguh dan bertawakal kepada Allah, insya Allah kita akan mendapatkan hasilnya.

Betapa banyak orang yang semula memilki sikap semangat hidup dan kerja keras, menjadi pemurung dan pemalas bahkan cenderung berputus asa setelah usahanya menglami kegagalan, citata-citanya tidak tecapai, dan sebagainya. Semua itu, akibat hilangnya sikap perilaku tawakal dalam diri mereka. Meraka terlau yakin dengan usaha dan kerja kerasnya, semua harapan akan dapat diraih dan cita-cita akan tercapai. Meraka lupa bahwa ada kekuatan lain diluar kekuatan usaha dan kerja kerasnya, yaitu kekuasaan Allah SWT. oleh sebab itu, bersikap perilaku tawakal menjadi penting sepanjang kehidupan kita.


Kesimpulan : 
Tasawuf ialah suatu cara dalam proses untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Jadi, dapat ditarik benang merahnya yakni pengertian Akhlak Tasawuf ialah salah satu disiplin ilmu yang terdapat dalam ajaran agama Islam yang mempelajari tata cara berprilaku yang baik dan mulia serta tentunya sesuai aturan Islam sehingga kita bisa mendekatkan diri kita kepada Allah dengan sepenuhnya dan memiliki rasa tenang saat berada di dekat-Nya. Akhlak Tasawuf memiliki kaitan yang sangat erat dalam kehidupan sehari-hari yakni untuk mencapai akhlak yang mulia diperlukan proses-proses yang biasanya dilakukan oleh pengamal tasawuf atau seorang sufi. Namun, belum dikatakan bertasawuf dengan benar apabila pencapaian akhlak yang mulia belum terpenuhi.