Rabu, 25 Maret 2020


Waktu Pengerjaan: 01:00 menit!

Minggu, 25 Desember 2016

Integrasi dalam ranah ontologi, epistemologi, dan aksiologi



IDENTITAS
            Nama                           : Habib Asy Muhyi
            NIM                            : 72154036
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu          : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    :Integrasi dalam ranah ontologi, integrasi dalam     ranah epistemologi, dan integrasi dalam ranah aksiologi
BUKU                                                
Identitas Buku                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum   Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Integrasi dalam ranah ontologi
Sub 2 : Integrasi dalam ranah epistemologi
Sub 3 : Integrasi dalam ranah aksiologi


 Integrasi Dalam Ranah Ontologi
                                                                                                                                     
           Istilah ontologi berasal dari bahasa yunani,Ont yang bermakna keberadaan,dan logos yang bermakna teori,sedangkan dalam bahasa latin di sebut Ontologi ,sehingga Ontologi bermakna keberadaan,sebagaimana keberadaan tersebut.Ontologi dapat dimaknai sebagai esensi segala sesuatu,ontologi merupakan  bagian dari meta fisika  yang merupakan  bagian dari filsafat dan membahas teori  tentang keberadaan dan karakteristik  esensi keberadaan. Dengan Demikian, ontologi adalah ilmu tentang teori keberadaan, dan istilah ontologi ditijukan kepada pembahasan tentang objek kajian ilmu.(Ja’far, gerbang tasawuf 2016:105)

                                                                               
          Para sufi awal memang  lebih banyak  memfokuskan kepada  masalah kedekatan  kepada Alloh Swt,tetapi belakangan mereka meluaskan  objek kajian tasauf  sampai kepada persoalan wujud,selain tasauf  juga mulai  bersinggungan  denngan Filsafat  ,sehingga mereka tidak hanya membahas  dan menyibak hakikat  Wujud nya,tetpi juga wujud  alam dan manusia. Sains juga  hendak mengkaji  dan menelaah  fenomena fenomena alam ,teruama persoalan  tentang mineral,tumbuhan,hewan dan manusia. Tentu saja, gagasan kaum sufi dinilai akan memberikan kontribusi dan pengayaan perspektif dalam upaya memahami dunia fisik tersebut.(Ja’far, gerbang tasawuf 2016:106)


Integrasi Dalam Ranah Epistemologi
               
           Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, espiteme yang bermakna pengetahuan, dan logos yang bermakna ilmu atau eksplanasi, sehingga epistemologi berarti teori pengetahuan. Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemology adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal – hal yang dapat diketahui. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan ilmu. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016:106107 dan 108)

           Kajian – kajian ilmu – ilmu alam menghandalkan metode observasi dan eksperimen yang disebut dalam epistemologi islam sebagai metode tajribi, sedangkan kajian tasawuf mengandalkan metode irfani yang biasa disebut metode tazkiyah al nafs. Meskipun ada perbedaan metode, tetapi kedua metode bisa melengkapi dan mendukung satu sama lain. Melalui zikir ibn arabi mampu menembus dunia,mulai dari dunia fisik sampai dunia gaib.dari aspek ini saintis muslim lebih banyak mengedepankan  metode tajribi (obserpasi dan eksprimen) dalam mengembangkan ilmu  ilmu alam,tetap mengambil metode tasauf dalam menemukan ilmu dan kebenaran ,dimana kaum sufi mengutamakan  metode tazkiah al nafs (penyucian jiwa) dengan melakukan berbagai ritual ibadah termasuk zikir,serta melakukan praktik  riyadhah dan mujadah.dari perpektif islam  kesucian jiwa manusia  menjadi syarat  utama untuk memperoleh  ilmu secara langsung  dari sumber asalnya,yaitu Alloh swt.yang diketahui memiliki sifat al Amin. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016:108 dan 109)


Integrasi Dalam Ranah Aksiologi

          Istilah aksiologi berasal dari bahasa yunani,axios yang berarti  nilai,dan logos yang berarti teori,aksiologi bermakna teori nilai ,inpestigasi terhadap,kriteria dan status meta fisik dari nilai tersebut. Menurut bunnin dan Yu,aksiologi adalah  studi umum tentang  nilai dan penilaian,termasuk makna,karakteristik,dan klasifikasi nilai serta dasar dan karakter  pertimbangan nilai. Sebab itu, aksiologi disebut dengan teori nilai. Aksiologi juga dimaknai sebagai studi tentang manfaat akhir dari segala sesuatu.Kajian aksiologi lebih ditujukan kepada pembahasan manfaat dan kegunaan ilmu, dan akademik ilmuan. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016:110)

              Dari aspek etika akademik,nilai nilai luhur tasauf dapat menjadi landasan  etis seorang ilmuan  dalam pengembangan sains dan teknologi. Konsep almaqomat dan al ahwal dapat menjadi semacam etika propesi  seorang saintis  sebagai ilmuan muslim.sekedar contoh,seorang saintis muslim sebagaimana ilmuan klasik,harus menampilkan  kehidupan sufisme seperti sikap suhud ,warak,sabar,tawakkal,cinta,fakir,dan rida dan menjalankan kegiatan akademik maupun maupun dalam kehidupan sosialnya. Meskipun memiliki banyak kekayaan material, seorang saintis Muslim masa depan harus bersikap zuhud dan fakir, dan menolak harta yang syubhat dan haram.  (Ja’far, gerbang tasawuf 2016:1109)


Kesimpulan

         Ontologi dapat dimaknai sebagai esensi segala sesuatu,ontologi merupakan  bagian dari meta fisika  yang merupakan  bagian dari filsafat dan membahas teori  tentang keberadaan dan karakteristik  esensi keberadaan.
          Epistemologi dimaknai sebagai cabang filsafat yang membahas pengetahuan dan pembenaran, dan kajian pokok epistemology adalah makna pengetahuan, kemungkinan manusia meraih pengetahuan, dan hal – hal yang dapat diketahui. Dengan demikian, epistemologi adalah ilmu tentang cara mendapatkan ilmu.
            aksiologi adalah  studi umum tentang  nilai dan penilaian,termasuk makna,karakteristik,dan klasifikasi nilai serta dasar dan karakter  pertimbangan nilai.


Relevansi dengan Bidang

Dalam jurusan sistem informasi yang sedang saya jalani, saya harus memperbanyak ilmu pengetahuan dengan cara mencari buku tentang IT yang ada diperpustakaan, serta mengimplementasikannya dalam kehidupan yang berguna dalam mempertajaam ilmu IT.
 

Sabtu, 17 Desember 2016

INTEGRASI TASAWUF DAN SAINS



IDENTITAS
            Nama                           : Habib Asy Muhyi
            NIM                            : 72154036
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu          : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Integrasi Tasawuf dan Sains
           
BUKU                                                
Identitas Buku                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Integrasi Tasawuf dan Sains



INTEGRASI TASAWUF DAN SAINS

Dalam sejarah islam, ditemukan seorang ahli astronomi, ahli biologi , ahli matematika, dan ahli arsitektur yang mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keislaman seperti tauhid, fikih, tafsir hadis, dan tasawuf. Meskipun berprofesi sebagai saintis dalam bidang ilmu-ilmu kealaman, para pemikir muslim klasik menempuh pola hidup sufistik, dan kajian-kajian ilmiah mereka diarahkan kepada pencapaian tujuan-tujuan religius dan spiritual. Para filsuf dari mazhab Peripatetik merupakan pemikir muslim yang berhasil mengintegrasikan filsafat yunani dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis, lantaran tema-tema filsafat yunani dengan di islamisasikam dan disesuaikan dengan paradigma islam. Tidak sebatas integrasi belaka, mereka malah mampu menguasai berbagai disiplin ilmu yang terdiri atas ilmu-ilmu kewahyuan, sehingga integrasi menjadi sangat mudah dilakukan. Al-Jahiz adalah ahli dalam bidang sastra arab, biologi, zoologi,sejarah,filsafat, psikologi, teologi, dan politik. Al-Kindi menguasai seluruh cabang filsafat seperti metafisika, etika, logika, psikologi, kedokteran, farmakologi,matematika,astrologi,optik,zoologi,dan meteorologi. Al-Razi adalah ahli dalam bidang filsafat, kimia,matematika, musik, dan kedokteran. Diantara prestasi besar mereka sebagian ilmuan Muslim adalah kemampuan mereka menguasai dan mengintegrasikan ilmu-ilmu rasional,ilmu-ilmu empirik, dan ilmu-ilmu kewahyuan. Secara keilmuan mereka menguasai banyak disiplin ilmu, dan secara personal mereka berperan sebsgsi saintis Muslim yang berpola hidup religius dan sufistik. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016 :102 dan 103).

Integrasi ilmu dalam islam bukan hal yang baru. Sebab, para ilmuan Muslim Klasik telah mengerjakan proyek keilmuan tersebut sepanjang masa keemasan Islam. Paling tidak, secara akademik mereka menguasai seluruh disiplin ilmu yang berkembang pesat pada masa mereka, baik ilmu-lmu rasional, empirik, dan ilmu kewahyuan. Mereka bahkan mengintegrasikan kedua jenis ilmu tersebut, dan keduanya saling mendukung kegiatan akademi tersebut. Meskipun mereka seorang filsuf dan saintis, perilaku hidup mereka merupakan realisasi terhadap teori mereka mengenai filsafat dan sufisme. Dapat disimpulkan bahwa mereka sukses mengintegrasikan antara dua jenis ilmu tersebut,dan mengintegrasikan keduanya dengan keyakinan dan perilaku hidup mereka sehari-hari. (Ja’far, gerbang tasawuf 2016 :105).


KESIMPULAN

Dalam megintegrasikan tasawuf dengan sains, haruslah mengaitkan dengan ajaran islam yang bersumberkan kepada Alquran dan hadis. Sebab, dalam Al-quran terdapat sumber pengetahuan tentang sains yang harus di kaji secara keseluruhan. Seperti para ilmuan, mereka mendapatkan pengetahuannya bersumber pada Al-quran dan hadis, seperti ibn sina penemu ilmu kedokteran dan masih banyak lagi ilmuan lainnya yang beragama islam tentunya.

RELEVANSI DENGAN BIDANG

Dalam jurusan sistem informasi yang sedang saya jalani , itu berkaitan erat dengan sains dan teknologi. Berhubung saya di UIN Sumatera Utara, Maka dari itu manfaatkan ilmu keislaman dan ilmu komputernya. Dengan cara mengkaji ilmu al-quran yang berhubungan dengan sains ataupun teknologi, lalu kita harus bisa mengimplementasikannya, dengan begitu bukan tidak mungkin kita akan menjadi ilmuan sains.


Selasa, 13 Desember 2016

Biografi Hasan Al-Bashri



IDENTITAS
            Nama                           : Habib Asy Muhyi
            NIM                            : 72154036
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu          : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Biografi Hasan Al-Bashri



A. HASAN AL-BASHRI DAN BENTUK AJARAN TASAWUFNYA
1. Biografi

            Nama lengkap beliau adalah Abu Sa‟id al-Hasan bin Yasar. Tokoh ini dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khairah di Madinah tahun 21 H. (642 M), meninggal di Basrah pada tahun 110 H. (728 M). Ayahnya seorang budak yang menjadi sekretaris nabi , yaitu Za‟id bin Tsabit. Ia dinisbatkan ke kota Basrah, karena ia lama belajar di Basrah dan mengembangkan kepakarannya hingga kepuncaknya dikota yang sama. Dari segi keilmuan, ia sangat unggul dan sangat dalam ilmunya, sehingga ia digelari Syekhal-Bashrah. Ia seorang  faqih ,muhadis, muffasir, sekaligus seorang suffi. Nasihat-nasihatnya tersebar dalam berbagai kitab, demikian hadist-hadist yang diriwayatkannya banyak menghiasi kitab-kitab. “Bergurulah kepada Hasan Basri”, demikian kata Qotadah,”karena saya sudah menyaksikan sendiri , tidaklah ada seorang tabi‟in yang menyerupai sahabat nabi kecuali beliau (Hasan Basri)”. Khalid bin Safwan menjelaskan kepada maslamah bin Abdul Malik tentang Hasan Basri. “Hasan adalah orang yang saat sendirinya sama dengan berada dimuka umum. Jika merasa tidak semangat dalam kebaikan segera bangkit dan jika sedikit saja melakukan kesalahan segera ia menahan diri. Jika menyuruh orang lain beramal ia paling dulu melakukannya, dan jika ia melarang sesuatu, ia paling dulu meninggalkannya. Ia tidak membutuhkan orang lain, sementara orang lain membutuhkan dirinya”. 

Ketika usia 14 tahun, Al-Hasan pindah ke kota Basrah , Irak, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri. Hasan kemudian dikategorikan sebagai seorang Tabi'in  (generasi setelah sahabat). Hasan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah S.A.W. sehingga dia muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradaban Islam.

Hasan Al Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman bin AffanAbdullah bin AbbasAli bin Abi TalibAbu Musa Al-Asy'ariAnas bin MalikJabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar. Al-Hasan menjadi guru di Basrah, (Iraq) dan mendirikan madrasah di sana. Di antara para pengikutnya yang terkenal adalah Amr Ibn Ubaid dan Wasil Ibn Atha  Dia salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Dia menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali,Muawiyah , Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya Ubay bin Ka'ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Dan kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain. Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum'at 5 Rajab 110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.

Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. Tetapi dia bukanlah seorang sufi. Khutbah-khutbah dia dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab.   
       

2. Bentuk Ajaran Tasawuf Hasan Basri

1. Perasaan takutmu sehingga bertemu dengan hati tenteram lebih baik dari pada perasaan tenterammu yang kemudian menimbulkan rasa takut.

2. Dunia adalah negeri tempat beramal. Barang siapa bertemu dengan dunia dengan rasa benci dan  zuhud, maka bahagialah dia dan ia mendapat faidah dalam persahabatan itu. Tetapi barang siapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya rindu dan perasaannya tersangkut kepada dunia maka akhirnya ia akan sengsara. Dia akan terbawa pada suatu masa yang tidak dapat dideritanya.

3. Tafakur membawa kita pada kebaikan dan berusaha mengerjakannya.Menyesal atas perbuatan jahat dan meninggalkannya. Barang yang fana walau bagaimana banyaknya tidaklah dapat menyamai barang yang baqa’ walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari negeri yang cepat datang dan cepat pergi juga karena tipuan.

4. Dunia ini laksana seorang nenek tua yang telah bungkuk dan telah banyak kematian laki-laki.

5. Orang yang beriman berduka cita pagi-pagi dan berduka cita diwaktu sore,karena ia hidup dalam dua ketakutan, takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal dan tahu bahaya apakah yang sedang mengancam.

6. Patutlah orang insaf bahwa mati sedang mengancamnya, dan kiamat menagih janjinya, dan ia mesti berdiri dihadapan Allah akan dihisab (dihitung amalnya) Banyak duka cita didunia memperteguh amal sholeh.


Referensi :

Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, hal, 78