Selasa, 13 Desember 2016

Biografi Hasan Al-Bashri



IDENTITAS
            Nama                           : Habib Asy Muhyi
            NIM                            : 72154036
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu          : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Biografi Hasan Al-Bashri



A. HASAN AL-BASHRI DAN BENTUK AJARAN TASAWUFNYA
1. Biografi

            Nama lengkap beliau adalah Abu Sa‟id al-Hasan bin Yasar. Tokoh ini dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khairah di Madinah tahun 21 H. (642 M), meninggal di Basrah pada tahun 110 H. (728 M). Ayahnya seorang budak yang menjadi sekretaris nabi , yaitu Za‟id bin Tsabit. Ia dinisbatkan ke kota Basrah, karena ia lama belajar di Basrah dan mengembangkan kepakarannya hingga kepuncaknya dikota yang sama. Dari segi keilmuan, ia sangat unggul dan sangat dalam ilmunya, sehingga ia digelari Syekhal-Bashrah. Ia seorang  faqih ,muhadis, muffasir, sekaligus seorang suffi. Nasihat-nasihatnya tersebar dalam berbagai kitab, demikian hadist-hadist yang diriwayatkannya banyak menghiasi kitab-kitab. “Bergurulah kepada Hasan Basri”, demikian kata Qotadah,”karena saya sudah menyaksikan sendiri , tidaklah ada seorang tabi‟in yang menyerupai sahabat nabi kecuali beliau (Hasan Basri)”. Khalid bin Safwan menjelaskan kepada maslamah bin Abdul Malik tentang Hasan Basri. “Hasan adalah orang yang saat sendirinya sama dengan berada dimuka umum. Jika merasa tidak semangat dalam kebaikan segera bangkit dan jika sedikit saja melakukan kesalahan segera ia menahan diri. Jika menyuruh orang lain beramal ia paling dulu melakukannya, dan jika ia melarang sesuatu, ia paling dulu meninggalkannya. Ia tidak membutuhkan orang lain, sementara orang lain membutuhkan dirinya”. 

Ketika usia 14 tahun, Al-Hasan pindah ke kota Basrah , Irak, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri. Hasan kemudian dikategorikan sebagai seorang Tabi'in  (generasi setelah sahabat). Hasan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah S.A.W. sehingga dia muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradaban Islam.

Hasan Al Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman bin AffanAbdullah bin AbbasAli bin Abi TalibAbu Musa Al-Asy'ariAnas bin MalikJabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar. Al-Hasan menjadi guru di Basrah, (Iraq) dan mendirikan madrasah di sana. Di antara para pengikutnya yang terkenal adalah Amr Ibn Ubaid dan Wasil Ibn Atha  Dia salah seorang fuqaha yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Dia menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali,Muawiyah , Anas, Jabir dan meriwayatkan hadits dari beberapa sahabat diantaranya Ubay bin Ka'ab, Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau tidak mendengar langsung dari mereka. Dan kemudian hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al Saib, Hisyam bin Hasan dan lain-lain. Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum'at 5 Rajab 110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.

Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. Tetapi dia bukanlah seorang sufi. Khutbah-khutbah dia dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab.   
       

2. Bentuk Ajaran Tasawuf Hasan Basri

1. Perasaan takutmu sehingga bertemu dengan hati tenteram lebih baik dari pada perasaan tenterammu yang kemudian menimbulkan rasa takut.

2. Dunia adalah negeri tempat beramal. Barang siapa bertemu dengan dunia dengan rasa benci dan  zuhud, maka bahagialah dia dan ia mendapat faidah dalam persahabatan itu. Tetapi barang siapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya rindu dan perasaannya tersangkut kepada dunia maka akhirnya ia akan sengsara. Dia akan terbawa pada suatu masa yang tidak dapat dideritanya.

3. Tafakur membawa kita pada kebaikan dan berusaha mengerjakannya.Menyesal atas perbuatan jahat dan meninggalkannya. Barang yang fana walau bagaimana banyaknya tidaklah dapat menyamai barang yang baqa’ walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari negeri yang cepat datang dan cepat pergi juga karena tipuan.

4. Dunia ini laksana seorang nenek tua yang telah bungkuk dan telah banyak kematian laki-laki.

5. Orang yang beriman berduka cita pagi-pagi dan berduka cita diwaktu sore,karena ia hidup dalam dua ketakutan, takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal dan tahu bahaya apakah yang sedang mengancam.

6. Patutlah orang insaf bahwa mati sedang mengancamnya, dan kiamat menagih janjinya, dan ia mesti berdiri dihadapan Allah akan dihisab (dihitung amalnya) Banyak duka cita didunia memperteguh amal sholeh.


Referensi :

Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, hal, 78


Tidak ada komentar:

Posting Komentar