IDENTITAS
Nama :
Habib Asy Muhyi
NIM :
72154036
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Biografi Hasan Al-Bashri
A. HASAN AL-BASHRI DAN BENTUK AJARAN TASAWUFNYA
1.
Biografi
Nama lengkap beliau adalah Abu Sa‟id
al-Hasan bin Yasar. Tokoh ini dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama
Khairah di Madinah tahun 21 H. (642 M), meninggal di Basrah pada tahun 110
H. (728 M). Ayahnya seorang budak yang menjadi sekretaris nabi , yaitu Za‟id
bin Tsabit. Ia dinisbatkan ke kota Basrah, karena ia lama belajar di
Basrah dan mengembangkan kepakarannya hingga kepuncaknya dikota yang sama. Dari segi
keilmuan, ia sangat unggul dan sangat dalam ilmunya, sehingga ia digelari
Syekhal-Bashrah. Ia seorang faqih ,muhadis, muffasir, sekaligus seorang
suffi. Nasihat-nasihatnya tersebar dalam berbagai kitab, demikian hadist-hadist
yang diriwayatkannya banyak menghiasi kitab-kitab. “Bergurulah kepada Hasan
Basri”, demikian kata Qotadah,”karena saya sudah menyaksikan sendiri , tidaklah
ada seorang tabi‟in yang menyerupai sahabat nabi kecuali beliau (Hasan Basri)”. Khalid
bin Safwan menjelaskan kepada maslamah bin Abdul Malik tentang Hasan Basri.
“Hasan adalah orang yang saat sendirinya sama dengan berada dimuka umum. Jika
merasa tidak semangat dalam kebaikan segera bangkit dan jika sedikit saja
melakukan kesalahan segera ia menahan diri. Jika menyuruh orang lain beramal ia
paling dulu melakukannya, dan jika ia melarang sesuatu, ia paling dulu meninggalkannya.
Ia tidak membutuhkan orang lain, sementara orang lain membutuhkan
dirinya”.
Ketika
usia 14 tahun, Al-Hasan pindah ke kota Basrah , Irak, dan menetap di sana. Dari
sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri. Hasan kemudian
dikategorikan sebagai seorang Tabi'in (generasi setelah sahabat). Hasan al-Basri juga pernah
berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah S.A.W. sehingga dia muncul
sebagai ulama terkemuka dalam peradaban Islam.
Hasan
Al Bashri berguru pada para sahabat Nabi, antara lain: Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar. Al-Hasan menjadi guru di Basrah, (Iraq)
dan mendirikan madrasah di sana.
Di antara para pengikutnya yang terkenal adalah Amr Ibn Ubaid dan Wasil Ibn Atha Dia salah seorang fuqaha
yang berani berkata benar dan menyeru kepada kebenaran di hadapan para pembesar
negeri dan seorang yang sukar diperoleh tolak bandingnya dalam soal ibadah. Dia
menerima hadits dari Abu Bakrah, Imran bin Husein, Jundub, Al Bajali,Muawiyah , Anas, Jabir dan meriwayatkan
hadits dari beberapa sahabat diantaranya Ubay bin Ka'ab,
Saad bin Ubadah, Umar bin Khattab walaupun tidak bertemu dengan mereka atau
tidak mendengar langsung dari mereka. Dan kemudian hadits-haditsnya
diriwayatkan oleh Jarir bin Abi Hazim, Humail At Thawil, Yazid bin Abi Maryam,
Abu Al Asyhab, Sammak bin Harb, Atha bin Abi Al Saib, Hisyam bin Hasan dan
lain-lain. Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari jum'at 5
Rajab 110 Hijrah (728 Masehi), pada umur 89 tahun.
Hasan
adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia
hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk
mengendalikan nafsu. Tetapi dia bukanlah seorang sufi. Khutbah-khutbah dia
dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab.
2. Bentuk
Ajaran Tasawuf Hasan Basri
1. Perasaan takutmu
sehingga bertemu dengan hati tenteram lebih baik dari pada perasaan tenterammu
yang kemudian menimbulkan rasa takut.
2. Dunia adalah negeri
tempat beramal. Barang siapa bertemu dengan dunia dengan rasa benci dan zuhud,
maka bahagialah dia dan ia mendapat faidah dalam persahabatan itu. Tetapi
barang siapa yang tinggal dalam dunia, lalu hatinya rindu dan perasaannya
tersangkut kepada dunia maka akhirnya ia akan sengsara. Dia akan terbawa pada
suatu masa yang tidak dapat dideritanya.
3. Tafakur membawa kita
pada kebaikan dan berusaha mengerjakannya.Menyesal atas perbuatan jahat dan
meninggalkannya. Barang yang fana walau bagaimana banyaknya tidaklah dapat
menyamai barang yang baqa’ walaupun sedikit. Awasilah dirimu dari negeri yang
cepat datang dan cepat pergi juga karena tipuan.
4. Dunia ini laksana
seorang nenek tua yang telah bungkuk dan telah banyak kematian laki-laki.
5. Orang yang beriman
berduka cita pagi-pagi dan berduka cita diwaktu sore,karena ia hidup dalam dua
ketakutan, takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal
yang masih tinggal dan tahu bahaya apakah yang sedang mengancam.
6. Patutlah orang insaf
bahwa mati sedang mengancamnya, dan kiamat menagih janjinya, dan ia mesti
berdiri dihadapan Allah akan dihisab (dihitung amalnya) Banyak duka cita
didunia memperteguh amal sholeh.
Referensi :
Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan
Pemurniannya, hal, 78
Tidak ada komentar:
Posting Komentar