Sabtu, 03 Desember 2016

Cinta,rida, dan al-maqam lainnya



IDENTITAS
            Nama                         : Habib Asy Muhyi
            NIM                           : 72154036
            Prodi/Sem.                 : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                      : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi         : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu        : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                 : Akhlak Tasawuf

TEMA                                   : Cinta,rida, dan al-maqam lainnya
           
BUKU                                               
Identitas Buku                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Cinta
Sub 2 : Rida
Sub 3 : Al-maqam lainnya




Cinta (al-mahabbah)

Para sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan al-quran,hadis,dan atsar. Makna al-mahabbah dalam tasawuf dapat dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid al-Baghdadi berkata “cinta adalah masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat mencintai”. Kata cinta disebut al-quran secara berulang kali, meskipun tidak hanya dalam makna cinta kepada Allah Swt, sebagaimana yang dimaksudkan olh kaum sufi. Seperti  Dalam Q.S Al-Baqarah/2 : 165, Allah Swt. Berfirman : “dan diantara manusia ada orang-orangg yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(Ja’far, 2016:78)

Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang Mutlak, yaitu cinta kepada Allah Swt.

            Kata mahabbah selanjutnya digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawwuf yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhaniah pada Allah Swt.

Rida (al-ridha)

            Dalam Q.S al-Maidah/5:119, Allah Swt berfirman : “Allah berfirman bahwa hari ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. Menurut Ibn Khatib, yang merupakan seorang sufi. rida adalah tenangnya hati dengan ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan keserasian hati dengan sesuatu yang dijadikan Allah Ta’ala”.(Ja’far, 2016: hal 82 dan 83) 

Rida maksudnya adalah rela ataupun menerima Setiap apa yang telah terjadi. Umat muslim haruslah merujukkan persahabatan dengan tuhan. Allah yang telah menentukan karidhaan dan ketidak ridhaannya. Oleh karena itu, keridhaannya terhadap keputusan-keputusannya adalah sebagian dari kebahagiaan. Kapan saja seseorang selaras dengan tuhan, hatinya akan gembira, dan kapan saja orang berpaling darinya, maka orang itu menderita dengan datangnya ketetapan Allah Swt.

Al-Maqam lainnya

          Menurut  Al-Kalabazi bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni al-ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang dikemukakannya; dan ma’rifat haqiqah yang bermakna ma’rifat yang tidak bisa dicapai dengan sarana apapun, sebab sifatnya tidak dapat ditembus dan ketuhanannya tidak dapat dipahami. Menurutnya, makrifat bermakna “hati (al-sirr) menyaksikan kekuasaaan Allah Swt dan merasakan besarnya kebenarannya dan mulianya kehebatannya yang tidak bisa diungkap dengan ibarat apapun”. Makrifat adalah pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt, tidak menyaksikan selain menyaksikannya, dan tidak kembali kepada selainnya. Makrifat merupakan maqam tertinggi diantara maqam lainnya.(Ja’far,gerbang tasawuf 2016: hal 84 dan 85)

Kesimpulan        

Al-Mahabbah, selain cinta kepada Allah Swt. Harus juga cinta kepada alquran, hadist dan atsar. Cinta dalam Alquran hampir selalu ditempatkan dalam konteks untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan sosial. Ajaran cinta ilahi yang dikumandangkan oleh tasawuf sebenarnya bisa dijadikan sarana kita untuk lebih memperhalus jiwa.

Rida, apa yang telah ditetapkan oleh Allah Swt harus diterima dengan lapang dada. Ridho adalah menerima dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah swt, baik berupa hokum (peraturan-peraturan) maupun ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Sikap ridho harus ditunjukkan, baik ketika menerima nikmat maupun tatkala ditimpa musibah.

Makrifat adalah pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt, tidak menyaksikan selain menyaksikannya, dan tidak kembali kepada selainnya. Makrifat merupakan maqam tertinggi diantara maqam lainnya.

Relevansi dengan Bidang

Cintai terhadap bidang studi yang dijalani pada jurusan sistem informasi merupakan kunci sukeses dalam mencapai suatu usaha yang di inginkan. Sebab, ketika kita niat dan cinta dalam belajar pemograman. Insya Allah , Allah akan meridhai perkuliahan yang sedang dijalani saat ini.


         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar