IDENTITAS
Nama :
Habib Asy Muhyi
NIM :
72154036
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : Cinta,rida,
dan al-maqam lainnya
BUKU
Identitas
Buku : Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan:
Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Cinta
Sub 2 : Rida
Sub 3 : Al-maqam
lainnya
Cinta
(al-mahabbah)
Para
sufi mendasari ajaran mereka tentang cinta dengan al-quran,hadis,dan atsar.
Makna al-mahabbah dalam tasawuf dapat dilihat dari ucapan kaum sufi. Junaid
al-Baghdadi berkata “cinta adalah masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat
mencintai”. Kata cinta disebut al-quran secara berulang kali, meskipun tidak
hanya dalam makna cinta kepada Allah Swt, sebagaimana yang dimaksudkan olh kaum
sufi. Seperti Dalam Q.S Al-Baqarah/2 :
165, Allah Swt. Berfirman : “dan diantara
manusia ada orang-orangg yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah,
mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang
berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),
bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat
siksa-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(Ja’far, 2016:78)
Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat
pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat
ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang Mutlak, yaitu cinta kepada
Allah Swt.
Kata mahabbah selanjutnya digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawwuf yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhaniah pada Allah Swt.
Rida
(al-ridha)
Dalam Q.S al-Maidah/5:119, Allah Swt berfirman : “Allah
berfirman bahwa hari ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang
yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap
mereka dan mereka pun rida terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling
besar”. Menurut Ibn Khatib, yang merupakan seorang sufi. rida adalah tenangnya
hati dengan ketetapan (takdir) Allah Ta’ala dan keserasian hati dengan sesuatu
yang dijadikan Allah Ta’ala”.(Ja’far,
2016: hal 82 dan 83)
Rida
maksudnya adalah rela ataupun menerima Setiap apa yang telah terjadi. Umat muslim
haruslah merujukkan persahabatan dengan tuhan. Allah yang telah menentukan
karidhaan dan ketidak ridhaannya. Oleh karena itu, keridhaannya terhadap
keputusan-keputusannya adalah sebagian dari kebahagiaan. Kapan saja seseorang
selaras dengan tuhan, hatinya akan gembira, dan kapan saja orang berpaling
darinya, maka orang itu menderita dengan datangnya ketetapan Allah Swt.
Al-Maqam
lainnya
Menurut
Al-Kalabazi bahwa sebagian sufi membagi makrifat menjadi dua, yakni
al-ma’rifat haq yang berarti penegasan keesaan Allah atas sifat-sifat yang
dikemukakannya; dan ma’rifat haqiqah yang bermakna ma’rifat yang tidak bisa
dicapai dengan sarana apapun, sebab sifatnya tidak dapat ditembus dan
ketuhanannya tidak dapat dipahami. Menurutnya, makrifat bermakna “hati (al-sirr)
menyaksikan kekuasaaan Allah Swt dan merasakan besarnya kebenarannya dan
mulianya kehebatannya yang tidak bisa diungkap dengan ibarat apapun”. Makrifat
adalah pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt, tidak menyaksikan
selain menyaksikannya, dan tidak kembali kepada selainnya. Makrifat merupakan
maqam tertinggi diantara maqam lainnya.(Ja’far,gerbang
tasawuf 2016: hal 84 dan 85)
Kesimpulan
Al-Mahabbah, selain
cinta kepada Allah Swt. Harus juga cinta kepada alquran, hadist dan atsar. Cinta
dalam Alquran hampir selalu ditempatkan dalam konteks untuk mewujudkan kebaikan
dan keadilan sosial. Ajaran cinta ilahi yang dikumandangkan
oleh tasawuf sebenarnya bisa dijadikan sarana kita untuk lebih memperhalus
jiwa.
Rida, apa yang telah
ditetapkan oleh Allah Swt harus diterima dengan lapang dada. Ridho adalah
menerima dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah swt, baik berupa
hokum (peraturan-peraturan) maupun ketentuan-ketentuan yang telah
ditetapkan-Nya. Sikap ridho harus ditunjukkan, baik ketika menerima nikmat
maupun tatkala ditimpa musibah.
Makrifat adalah
pengosongan diri untuk selalu mengingat Allah Swt, tidak menyaksikan selain
menyaksikannya, dan tidak kembali kepada selainnya. Makrifat merupakan maqam
tertinggi diantara maqam lainnya.
Relevansi
dengan Bidang
Cintai terhadap bidang studi yang dijalani
pada jurusan sistem informasi merupakan kunci sukeses dalam mencapai suatu usaha
yang di inginkan. Sebab, ketika kita niat dan cinta dalam belajar pemograman.
Insya Allah , Allah akan meridhai perkuliahan yang sedang dijalani saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar