Sabtu, 26 November 2016

fakir, sabar dan tawakal



IDENTITAS
            Nama                           : Habib Asy Muhyi
            NIM                            : 72154036
            Prodi/Sem.                   : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi           : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                   : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    :Kefakiraan,sabar dan tawakal      
BUKU                                               
Identitas Buku                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis    Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Kefakiran
Sub 2 : Sabar
Sub 3 : Tawakal



KEFAKIRAN (AL-FAQR)

            Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah,fakir tidak bermakna manafikan kekayaan dan harta , sebab para nabi dan rasul adalah orang-orang kaya dan memiliki kekuasaan , tetapi makna fakir adalah seorang hamba senantiasa memiliki kebutuhan terhadap Allah Swt dalam keadaan apapun . Hakikat fakir adalah tidak membutuhkan segala hal dan hanya membutuhkan Allah Swt dalam berbagai keadaan. Menurut Ibn Qudamah, derajat tertinggi dalam fakir adalah seorang salik benci kepada harta (zuhud) dan tidak merasa senang dengan harta (rida). (Ja’far 2016 : 71)
Menurut iman al ghazali fkir dapat bermakna tidak memiliki harta. Menurutnya ada lima tingkatan fakir, dua di antarannya yang paling tinggi derajatnya adalah seorang hamba yang tidak suka diberi harta, merasa , merasa tersiksa dengan harta , dan menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan untuk mencari harta; dan seorang hamba tidak merasa senang bila mendapatkan harta, dan tidak merasa benci bila tidak mendapatkan harta. (Ja’far 2016 : 71)

SABAR (AL-SHABR)

            Al-Qusyairi dan Al-Ghazali menyebutkan dalil-dalil sabar, antara lain Q.S. al-Sajdah/32:24; Q.S. al-A’raf7:137; Q.S. al-Nahl/16:96,127; Q.S. al-Qashash/27:54; Q.S. al-Zumar/39:10; Q.S. al-Anfal/8:46; Q.S. al-Thur/52:48; dan Q.S. Shad/38:44. Mengenai makna sabar menurut kaum sufi awal, Dzun al-Nun al-Mishri, misalnya,pernah mengatakan bahwa “sabar” adalah menjauhi hal-hal yang bertentangan , bersikap tenang ketika menelan pahitnya cobaan, dan menmpakkan sikap kaya dengan menyembunyikan kefakiran dalam kehidupan . Ibn ‘Artha’ berkata: “sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap berprilaku baik. Sebagian ulama, kata al-Qusyairi, berkata: “sabar adalah tertimpa cobaan dengan tetap bersikap baik dalam pergaulan sebagaimana keadaan sehat. Menurut Nashr al-Din al-Thusi, sabar secara harfiah bermakna “mencegah jiwa dari perasaan waswas ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”Al-Thusi membagi sabar menjadi 3 jenis : sabar kaum awam, yakni menjaga jiwa agar tetap kokoh dalam kesabaran dan tetap konsisten dalam kekuatannya ; kesabaran kaum zuhud, yakni rasa takut dan sikap sabar kepada Allah dalam harapan untuk memperoleh ganjaran di akhirat; dan kesabaran ahli hikmah, yakni merasakan kebahagiaan walupun ditimpa musibah. Al-Ghazali, Ibn Qudamah, dan Ibn Qayyim al-Jauziyah membagi sabar menjadi 3: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dari godaan untuk melakukan perbuatan maksiat , dan sabar atas musibah dari Allah Swt.(Ja’far 2016:74)     
            Sabar harus di praktekkan dalam kehidupan ini, bukan hanya ketika kita sedang terkena musibah atau kesulitan, namun juga ketika sedang dianugerahi kemudahan dan kelapangan dalam kehidupan.

TAWAKAL (AL-TAWAKKUL)

            Dalam karya-karya tasawuf, para sufi telah memberikan penjelasan mengenai makna tawakal. Hamdun al-Qashshar berkata,”tawakal adalah berpegang teguh kepada Allah Swt. Sahl bin ‘Abd Allah al-Thustari berkata,”tawakal adalah melepaskan segala apa yang dikehendaki dengan menyandarkan diri kepada Allah Swt. Abu Ya’qub Ishaq al-Nahr al-Jauzi berkata,”tawakal adalah menyerahkan diri kepada allah Swt dengan sebenarnya. Abu Ali al-Daqaq berkata,”tawakal kepada Allah Swt memiliki tiga tingkatan, yakni tawakal,taslim,dan tafwidh. Orang yang tawakal adalah orang yang merasa tenang dengan janji Allah Swt. Orang yang taslim adalah orang yang merasa cukup dengan ilmu-Nya. Orang yang tafwidh adalah orang yang rela dengan hukum-Nya. Jadi, tawakal adalah permulaan,taslim adalah pertengahan, dan tafwidh adalah akhir” . Tawakal tidak bermakna bahwa seseorang hamba tidak melakukan apapun dengan alasan menyerahkan semua urusan kepada Allah Swt , tetapi tawakal bermakna bahwa setiap orang harus mempercayai bahwa segala sesuatu selain Allah pasti berasal dari Allah , dan segala sesuatu bekerja sesuai hubungan sebab-akibat. Tawakal itu dengan berserah diri kepada Allah Swt dengan mengharrapkan pertolongannya.(Ja’far 2016:77)
            Tawakal adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah setelah berusaha dengan sunguh-sungguh. Apabila sudah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi masih gagal juga, maka kita harus bersabar. Bersabar tidak berarti ‎berdiam diri, melainkan terus berusaha lebih giat disertai doa. Ketika suatu usaha atau pekerjaan belum dilaksanakan ‎dengan sungguh-sungguh, kemudian orang tersebut berserah diri kepada Allah, maka orang itu belum dikatakan sebagai ‎orang yang bertawakal. Sebab orang yang bertawakal adalah orang yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu ‎pekerjaan.Tawakal kepada Allah bukan berarti menghilangkan dan meninggalkan usaha atau ikhtiar. Bahkan tawakal tidak sah tanpa disertai usaha dan mengikuti sunah, serta aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah swt. Setelah ‎berusaha baru kemudian berserah diri kepada Allah, menyerahkan segala perkara kepada-Nya dan tidak mengharapkan ‎hasil apa pun kecuali dari sisi-Nya.

KESIMPULAN
            Fakir ialah orang yang  membutuhkan segala hal dan hanya membutuhkan Allah Swt dalam keadaan apapun. Sabar adalah Menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.    Tawakkal ialah pelepasan daripada kekuasaan dan kekuatan, tidak ada kekuasaan dan kekuatan apa pun melainkan daripada Allah semesta alam. Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, berusaha dengan sunguh-sungguh, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.

RELEVANSI DENGAN BIDANG
            Sebagai anak sistem informasi bertawakallah kepada Allah Swt setelah melakukan usaha bersunggu-sungguh dalam pembuatan coding komputer dan juga diiringi dengan doa, insyaalah akan jadi seorang programmer komputer yang handal.


           

Minggu, 20 November 2016

Tobat,warak dan zuhud


IDENTITAS
            Nama                         : Habib Asy Muhyi
            NIM                           : 72154036
            Prodi/Sem.                 : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                      : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi         : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu        : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                 : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Tobat,warak,zuhud
           
BUKU                                    
Identitas Buku                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis   Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Tobat
Sub 2 : Warak
Sub 3 : Zuhud


Tobat
            Istilah tobat diartikan sebagai berbalik dan kembali kepada Allah dari dosa seseorang untuk mencari pengampunan-Nya , dan istilah ini telah dijelaskan oleh para sufi dalam karya-karya mereka. Dzun Nun al-Mishri menegaskan bahwa tobat dibagi menjadi tiga: “tobat kaum awam (al-amm) yakni tobat dari dosanya (taubah min al-zunubi); tobat orang terpilih (al-khash) yakni tobat dari kelupaannya (al-ghaflah); dan tobat para nabi yakni tobat dari kesadaran mereka atas ketidakmampuan untuk mencapai apa yang telah dicapai orang lain. Menurut al-Qusyairi, tobat adalah awal pendakian dan maqam pertama bagi sufi pemula . Menurutnya, tobat adalah kembali dari sesuatu yang dicela syariat menuju kepada sesuatu yang dipuji syariat...tobat diharuskan memenuhi tiga syarat yaitu menyesali atas pelanggaran yang telah dibuat , meninggalkan jalan licin (kesesatan) pada saat melakukan tobat, dan berketetapan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran serupa. Junaidi al-Baghdadi mengatakan bahwa “tobat memiliki tiga makna, yakni penyesalan, tekad meninggalkan segala larangan Allah Swt., dan berusaha memenuhi hak-hak semua orang yang pernah dizalimi.(Ja’far 2016:60)   
            Setelah bertobat dari dosa-dosa , orang yang bertobat hendaknya meletakkan diri pada perasaan antara takut dan berharap. Memiliki harapan agar Allah menerima tobatnya dengan karunia dan belas kasinya serta memiliki pula perasaan takut sekiranya Allah swt. Tidak menerima tobatnya lantaran apabila tidak dilakukan secara sempurna sesuai dengan tata cara yang diperintahkan oleh Allah, maka ia tidak bertobat kepada Allah secara benar.

Warak
          Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, warak adalah menjaga diri dari perbuatan dan barang haram dan syubhat. Menurutnya, ada tiga derajat warak, yakni menjauhi keburukan karena hendak menjaga diri, memperbanyak kebaikan dan menjaga iman; menjaga hukum dalam segala hal yang mubah, melepaskan diri dari kehinaan, dan menjaga diri agar tidak melampaui hukum dan menjauhi segala sesuatu yang mengajak kepada perpecahan. (Ja’far 2016:63)
            Syubhat adalah tidak jelas halal dan haramnya. Contohnya berjualan ditempat prostitusi, jualannya halal tapi tempatnya yang haram. Ada lagi ketika di undamg ke acara pesta, saat makan... seorang sufi biasanya tidak mau makan karena tidak jelas hasil dari membuat acara pesta tersebut apakah halal atau haram.

Zuhud (al-alzuhd)
            Menurut Abu Ali al-Daqaq Zuhud adalah sikap anti kemewahan dunia. Dan menurut Ibn Khafif tanda-tanda zuhud adalah merasa senang meninggalkan harta benda, sedangkan makna zuhud adalah hati merasa terhibur meningggalkan berbagai bentuk kehidupan duniawi dan menghindarkan diri dari harta benda.Sebagian ulama,kata al-Qusyairi, zuhud adalah jiwa merasa tenang meninggalkan kehidupan dunia tanpa keterpaksaan. Al-Ghazali berpendapat zuhud adalah sikap tidak menyukai dunia karena ingin berpaling kepada akhirat.(ja’far 2016:66,67)
            Keimanan yang kuat dan selalu ingat bagaimana ia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat guna mempertanggung-jawabkan segala amalnya, yang besar maupun yang kecil, yang tampak ataupun yang tersembunyi. Ingat! betapa dahsyatnya peristiwa datangnya hari kiamat kelak. Hal itu akan membuat kecintaannya terhadap dunia dan kelezatannya menjadi hilang dalam hatinya, kemudian meninggalkannya dan merasa cukup dengan hidup sederhana. Merasakan bahwa dunia itu membuat hati terganggu dalam berhubungan dengan Allah, dan membuat seseorang merasa jauh dari kedudukan yang tinggi di akhirat kelak, dimana dia akan ditanya tentang kenikmatan dunia yang telah ia peroleh.

Kesimpulan
Tobat, jika bersungguh-sungguh bertobat kepada Allah, insya Allah tobatnya akan diterima oleh Allah. Dengan syarat tidak mengulangi perbuatannya lagi. Wara’, berhati-hati dalam melilih haram dan halalnya, baik itu benda maupun perbuatan. Zuhud, meninggalkan kemewahan dunia dengan hidup sederhana dan beralih untuk akhiratnya.

Relevansi dengan Bidang
Dalam ilmu pemrogramam komputer kita harus sangat teliti dan berhati-hati dalam membuat code program, karena jika tidak berhati-hati program akan eror. Begitu juga dengan keamanan komputer kita harus berhati-hati supaya tidak dibobol orang lain.



Minggu, 06 November 2016

AL-MAQAMAT DAN AL-AHWAL



IDENTITAS
            Nama                          : Habib Asy Muhyi
            NIM                            : 72154036
            Prodi/Sem.                  : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                       : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi          : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu         : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                  : Akhlak Tasawuf

TEMA                                   : al-Maqamat dan al-Ahwal
           
BUKU                                               
Identitas Buku                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Definisi
Sub 2 : Pondasi al-Maqamat
Sub 3 : Hierarki al-Muqamat
Sub 4 : Al-Maqam Lainnya
Sub 5 : Mengenal al-Ahwal


A. DEFINISI

            Para sufi menyusun teori mengenai usaha-usaha untuk menempuh perjalanan spiritual (thariqah) berupa tangga-tangga pendakian spiritual yang disebut al-maqamat. Hakikat al-muqamatdapat dilihat dari karya-karya sufi yang biasanya juga diiringi kajian tentang ahwal, sebab keduanya tidak bisa dibahas secara terpisah. Dalam kitab al-Luma , al-Thusi menjelaskan bahwa muqamat adalah tingkatan seorang hamba dengan Allah Swt. yang dibangun atas dasar pelaksanaan ibadah, mujahadah, riyadhah, dan kebersamaan dengannya. Teori al-maqamat sesuai dengan Q.S Ibrahim/14:14, dan Q.S al-Shaffat/37:164.sedangkan al-ahwal adalah keadaan hati (qalb) seorang sufi  sebagai akibat dari kemurnian zikirnya.(Ja’far: 2016 hal 48)
            pengertian ini diperkenalkan dengan maksud sebagai bagian dari pentingnya disiplin dalam tasawuf, yang tujuan perjalanan spiritual , baik itu pemahaman tentang Allah, keridhaannya, Cinta-Nya dapat dicapai dengan demikian, kesimpulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pemahaman mereka tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqamat dan ahwal dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika menempuh jalan spiritual. Dengan demikian, tidak semua pejalan spiritual harus mengikuti, menjalani, atau mengalami maqamat dan ahwal persis sebagaimana disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual. Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan keadaan hati dan ketinggian akhlak untuk meraih hal itu. Dan semuanya itu diyakini dibutuhkan upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu mujahadah serta latihan-latihan keruhanian riyadhah.


B. Pondasi al-Maqamat

            Dalam pondasi al-muqamat , seorang salik harus lah melakukan khalwah dan uzlah dalam melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah Awt. Khalwah (menyepi) atau uzlah (mengasingkan diri) adalah memutus hubungan dengan makhluk dengan cara menyendiri untuk berdialog dan berteman dengan al-Haqq Allah s.w.t. Dalam prakteknya Ia akan makan dan minum dalam jumlah yang sesedikit mungkin dari kebutuhan tubuhnya. Ia lalu berusaha melupakan segala bentuk hasrat jasmani yang dimilikinya, dengan menyibukkan diri tanpa henti siang dan malam dengan zikir dan tafakur. Manfaat yang ia dapat dalam menjalani khalwah dan uzlah adalah bisa melepaskan diri dari perbuatan maksiat dan mengosongkan diri hanya beribah kepada allah.
            Ketika menjalankan khalwah dan uzlah, seorang salik juga harus menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahaddah, dan riyadhah. Menurut al-Qusyairi, ibadah atau ubudiyah adalah “melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang”. Sedangkan menurut  al-din al-thusi riyadhah adalah menahan jiwa binatang agar salik tidak mengikuti kecenderungannya terhadap nafsu dan amarah, dan menahan jiwa rasional agar tidak menuruti insting binatang serta watak dan perbuatan tercela. Salah satu andalan seorang salik adalah zikir. Selain berzikir seorang salik yang sedang berkhalwat harus dalam keadaan berwudhu , berpuasa,sedikit makan dan minum, sedikit bicara dan terus beramal menjalankan ibadah shalat (wajib dan sunnah). Kebanyakan sufi mengadakan khalwah selama empat puluh hari.(Ja’far:2016 hal 54 dan 55)


C. Hierarki al-Muqamat

            Dalam pengalaman spritual al-Thusi dan al-Ghazali susunan al-maqamat ada yang berbeda. Al-Ghazali tidak memasukkan wara’ sedangkan al-Thusi tidak memasukkan al-mahabbah. Berikut susunan al-Maqamatnya:
- Tobat
Orang yang menempuh jalan sufi terlebih dahulu harus bertobat dari dosa, yang dilakukan oleh anggota badan, maupun yang tersembunyi di dalam hati.
- wara’,
Wara’ yaitu meninggalkan segala sesuatu yang syubhat, yaitu segala sesuatu yang yang diragukan hukumnya, tidak jelas halal-haramnya, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna.
- Zuhud
Zuhud yaitu mengosongkan hati dari cinta terhadap dunia dan menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah SWT, serta mengosongkan hati dari selain Allah SWT dan memusatkan hati kepada cinta-Nya.
- Faqir
Faqir yaitu menjalani hidup dengan kesadaran bahwa ia hanya membutuhkan Allah SWT.
- Sabar
Sabar yaitu sabar dalam menjalani perintah, sabar dalam meninggalkan larangan, sabar dalam menghadapi kesulitan, dan sabar atas ni’mah yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepadanya.
- Tawakal
Tawakal yaitu menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, tidak bergantung kepada selain-Nya, dan tidak pula kepada amal perbuatannya (nafsunya).
- Cinta (al-mahabbah)
Mahabbah pada tingkatan selanjutnya dapat diartikan suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi dengan terwujudnya kecintaan yang mendalam kepada Allah Swt.
- Rida
Rida yaitu menerima dengan senang hati segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah SWT dan menyadari bahwa ketentuan-Nya lebih baik daripada keinginannya.


D. Al-Maqam Lainnya

Maqam lainnya yaitu Ma’rifat yang memiliki kedudukan tertinggi diantara maqam-maqam yang dilewati oleh seorang sufi untuk bertemu Allah SWT, Memperoleh ma’rifah, merupakan proses yang bersifat kontinue. Makin banyak seorang Sufi memperoleh ma’rifah dari Allah, makin banyak yang diketahuinya tentang rahasia -rahasia Allah s.w.t. dan dia pun makin dekat kepada Allah. Pada dasarnya manusia juga hidup di dunia ini dengan dihiasi dengan masalah - masalah yang sudah tentu membutuhkan kebenaran. Begitu pun sebenarnya makrifah yang seharusnya selalu dibutuhkan oleh seorang hamba untuk lebih dekat lagi dengan Tuhannya. ma’rifatullah atau mengenal Allah yaitu awal kita beragama yang artinya tahapan ma’rifat adalah tahapan yang tertinggi dari pada tahapan tahapan yang lain yang merupakan dasar tahapan. Dengan mencapai ma’rifat maka segala ibadah akan bermakna karena kita mengenal siapa yang kita sembah. Jika makrifatullah adalah awal beragama, lalu apa akhir dari agama? Akhir dari beragama juga makrifatullah karena makrifatullah adalah ruh dari agama.

   
E. Mengenal al-Ahwal

            Sebagian sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal yang tidak diraih secara mandiri melainkan anugerah dari Allah Swt. yang keadaannya tidak kekal dalam diri seorang salik. Berikut contoh al-ahwa:
• Al-Muraqabah
Secara etimologi muraqabah berarti menjaga atau mengamati tujuan. Adapun secara terminologi muraqabah adalah salah satu sikap mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh penciptanya.
• Takut (al-khauf)
Al-khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya.
• Harap (al-raja’)
raja’ adalah sikap optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi hambanya yang saleh dan dalam dirinya timbul rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai amal terpuji dan menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.
• Rindu (al-syawq)
Rasa rindu ini memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni. Untuk menimbulkan rasa rindu kepada Allah maka seorang salik terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah. Jika pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah telah mendalam, maka hal tersebut akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang akan menimbulkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu, rasa rindu untuk selalu bertemu dan bersama Allah.


Kesimpulan

Dalam ilmu Tasawuf, maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui riyadhah, ibadah, maupun mujahadah. Di samping itu, maqamat berarti jalan panjang atau fase-fase yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Allah. Maqam dilalui seorang hamba melalui usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan sejumlah kewajiban yang harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu. Seorang hamba tidak akan mencapai maqam berikutnya sebelum menyempurnakan maqam sebelumnya.


Relevansi dengan bidang
           
Dalam beribadah kita harus lah berusaha sungguh-sungguh untuk terwujudnya cinta yang mendalam kepada Allah Swt. Begitu juga dengan program komputer , untuk bisa memahami pelajarannya, berusaha lah dengan keras dalam belajar. Dengan kita menikmati pelajarannya, rasa cinta atau pun suka dengan pelajarannya akan muncul.