IDENTITAS
Nama :
Habib Asy Muhyi
NIM :
72154036
Prodi/Sem. : Sistem Informasi-2 / III
Fakultas : Sains dan Teknologi
Perguruan Tinggi : UIN Sumatera Utara
Dosen Pengampu : Dr. Ja’far, MA
Matakuliah : Akhlak Tasawuf
TEMA : al-Maqamat dan al-Ahwal
BUKU
Identitas
Buku : Ja’far, Gerbang
Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis Ajaran Kaum Sufi(Medan:
Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Definisi
Sub 2 : Pondasi al-Maqamat
Sub 3 : Hierarki al-Muqamat
Sub
4 : Al-Maqam Lainnya
Sub 5 : Mengenal
al-Ahwal
A.
DEFINISI
Para sufi menyusun teori mengenai usaha-usaha untuk
menempuh perjalanan spiritual (thariqah) berupa tangga-tangga pendakian
spiritual yang disebut al-maqamat. Hakikat al-muqamatdapat dilihat dari
karya-karya sufi yang biasanya juga diiringi kajian tentang ahwal, sebab
keduanya tidak bisa dibahas secara terpisah. Dalam kitab al-Luma , al-Thusi
menjelaskan bahwa muqamat adalah tingkatan seorang hamba dengan Allah Swt. yang
dibangun atas dasar pelaksanaan ibadah, mujahadah, riyadhah, dan kebersamaan
dengannya. Teori al-maqamat sesuai dengan Q.S Ibrahim/14:14, dan Q.S
al-Shaffat/37:164.sedangkan al-ahwal adalah keadaan hati (qalb) seorang
sufi sebagai akibat dari kemurnian
zikirnya.(Ja’far: 2016 hal 48)
pengertian ini diperkenalkan dengan maksud sebagai bagian
dari pentingnya disiplin dalam tasawuf, yang tujuan perjalanan spiritual , baik
itu pemahaman tentang Allah, keridhaannya, Cinta-Nya dapat dicapai dengan
demikian, kesimpulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pemahaman mereka
tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqamat dan
ahwal dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika
menempuh jalan spiritual. Dengan demikian, tidak semua pejalan spiritual harus
mengikuti, menjalani, atau mengalami maqamat dan ahwal persis sebagaimana
disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual.
Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan
keadaan hati dan ketinggian akhlak untuk meraih hal itu. Dan semuanya itu diyakini
dibutuhkan upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam melawan hawa nafsu
mujahadah serta latihan-latihan keruhanian riyadhah.
B.
Pondasi al-Maqamat
Dalam pondasi
al-muqamat , seorang salik harus lah melakukan khalwah dan uzlah dalam
melaksanakan perjalanan spiritual menuju Allah Awt. Khalwah
(menyepi) atau uzlah (mengasingkan diri) adalah memutus hubungan dengan makhluk
dengan cara menyendiri untuk berdialog dan berteman dengan al-Haqq Allah s.w.t.
Dalam prakteknya Ia akan makan dan minum dalam jumlah yang sesedikit mungkin
dari kebutuhan tubuhnya. Ia lalu berusaha melupakan segala bentuk hasrat
jasmani yang dimilikinya, dengan menyibukkan diri tanpa henti siang dan malam
dengan zikir dan tafakur. Manfaat yang ia dapat dalam menjalani khalwah dan
uzlah adalah bisa melepaskan diri dari perbuatan maksiat dan mengosongkan diri
hanya beribah kepada allah.
Ketika menjalankan khalwah dan uzlah, seorang salik juga
harus menjalankan berbagai bentuk ibadah, mujahaddah, dan riyadhah. Menurut
al-Qusyairi, ibadah atau ubudiyah adalah “melaksanakan segala apa yang
diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang”. Sedangkan menurut al-din al-thusi riyadhah adalah menahan jiwa
binatang agar salik tidak mengikuti kecenderungannya terhadap nafsu dan amarah,
dan menahan jiwa rasional agar tidak menuruti insting binatang serta watak dan
perbuatan tercela. Salah satu andalan seorang salik adalah zikir. Selain
berzikir seorang salik yang sedang berkhalwat harus dalam keadaan berwudhu ,
berpuasa,sedikit makan dan minum, sedikit bicara dan terus beramal menjalankan
ibadah shalat (wajib dan sunnah). Kebanyakan sufi mengadakan khalwah selama
empat puluh hari.(Ja’far:2016 hal 54 dan 55)
C.
Hierarki al-Muqamat
Dalam pengalaman spritual al-Thusi dan al-Ghazali susunan
al-maqamat ada yang berbeda. Al-Ghazali tidak memasukkan wara’ sedangkan
al-Thusi tidak memasukkan al-mahabbah. Berikut susunan al-Maqamatnya:
- Tobat
Orang yang menempuh jalan sufi
terlebih dahulu harus bertobat dari dosa, yang dilakukan oleh anggota badan,
maupun yang tersembunyi di dalam hati.
- wara’,
Wara’ yaitu meninggalkan segala
sesuatu yang syubhat, yaitu segala sesuatu yang yang diragukan hukumnya, tidak
jelas halal-haramnya, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak berguna.
- Zuhud
Zuhud yaitu mengosongkan hati dari
cinta terhadap dunia dan menjalani hidup untuk beribadah kepada Allah SWT,
serta mengosongkan hati dari selain Allah SWT dan memusatkan hati kepada
cinta-Nya.
- Faqir
Faqir yaitu menjalani hidup dengan
kesadaran bahwa ia hanya membutuhkan Allah SWT.
- Sabar
Sabar yaitu sabar dalam menjalani
perintah, sabar dalam meninggalkan larangan, sabar dalam menghadapi kesulitan,
dan sabar atas ni’mah yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepadanya.
- Tawakal
Tawakal yaitu menyerahkan segala
sesuatunya kepada Allah SWT, tidak bergantung kepada selain-Nya, dan tidak pula
kepada amal perbuatannya (nafsunya).
- Cinta (al-mahabbah)
Mahabbah pada tingkatan selanjutnya dapat diartikan suatu
usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat rohaniah tertinggi
dengan terwujudnya kecintaan yang mendalam kepada Allah Swt.
- Rida
Rida yaitu menerima dengan senang
hati segala sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah SWT dan menyadari bahwa
ketentuan-Nya lebih baik daripada keinginannya.
D. Al-Maqam
Lainnya
Maqam lainnya yaitu Ma’rifat yang memiliki
kedudukan tertinggi diantara maqam-maqam yang dilewati oleh seorang sufi untuk
bertemu Allah SWT, Memperoleh ma’rifah, merupakan proses yang bersifat kontinue.
Makin banyak seorang Sufi memperoleh ma’rifah dari Allah, makin banyak yang
diketahuinya tentang rahasia -rahasia Allah s.w.t. dan dia pun makin dekat
kepada Allah. Pada dasarnya manusia juga hidup di dunia ini dengan dihiasi
dengan masalah - masalah yang sudah tentu membutuhkan kebenaran. Begitu pun
sebenarnya makrifah yang seharusnya selalu dibutuhkan oleh seorang hamba untuk
lebih dekat lagi dengan Tuhannya. ma’rifatullah
atau mengenal Allah yaitu awal kita beragama yang artinya tahapan ma’rifat
adalah tahapan yang tertinggi dari pada tahapan tahapan yang lain yang
merupakan dasar tahapan. Dengan mencapai ma’rifat maka segala ibadah akan
bermakna karena kita mengenal siapa yang kita sembah. Jika makrifatullah adalah
awal beragama, lalu apa akhir dari agama? Akhir dari beragama juga
makrifatullah karena makrifatullah adalah ruh dari agama.
E. Mengenal
al-Ahwal
Sebagian
sufi pernah menyebut beberapa contoh al-ahwal yang tidak diraih secara mandiri
melainkan anugerah dari Allah Swt. yang keadaannya tidak kekal dalam diri
seorang salik. Berikut contoh al-ahwa:
• Al-Muraqabah
Secara etimologi muraqabah berarti
menjaga atau mengamati tujuan. Adapun secara terminologi muraqabah adalah salah
satu sikap mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia
selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh penciptanya.
• Takut (al-khauf)
Al-khauf adalah suatu sikap mental
merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut
dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya.
• Harap (al-raja’)
raja’ adalah sikap optimis dalam
memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi hambanya yang
saleh dan dalam dirinya timbul rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai
amal terpuji dan menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.
• Rindu (al-syawq)
Rasa rindu ini memancar dari kalbu
karena gelora cinta yang murni. Untuk menimbulkan rasa rindu kepada Allah maka
seorang salik terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dan pengenalan terhadap
Allah. Jika pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah telah mendalam, maka hal
tersebut akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang akan menimbulkan
cinta dan akan tumbuh rasa rindu, rasa rindu untuk selalu bertemu dan bersama
Allah.
Kesimpulan
Dalam ilmu
Tasawuf, maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah
berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui riyadhah, ibadah, maupun
mujahadah. Di samping itu, maqamat berarti jalan panjang atau
fase-fase yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada sedekat mungkin
dengan Allah. Maqam dilalui seorang hamba melalui usaha yang sungguh-sungguh
dalam melakukan sejumlah kewajiban yang harus ditempuh dalam jangka waktu tertentu.
Seorang hamba tidak akan mencapai maqam berikutnya sebelum menyempurnakan maqam
sebelumnya.
Relevansi
dengan bidang
Dalam
beribadah kita harus lah berusaha sungguh-sungguh untuk terwujudnya cinta yang
mendalam kepada Allah Swt. Begitu juga dengan program komputer , untuk bisa
memahami pelajarannya, berusaha lah dengan keras dalam belajar. Dengan kita
menikmati pelajarannya, rasa cinta atau pun suka dengan pelajarannya akan
muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar