Minggu, 20 November 2016

Tobat,warak dan zuhud


IDENTITAS
            Nama                         : Habib Asy Muhyi
            NIM                           : 72154036
            Prodi/Sem.                 : Sistem Informasi-2 / III
            Fakultas                      : Sains dan Teknologi
            Perguruan Tinggi         : UIN Sumatera Utara
            Dosen Pengampu        : Dr. Ja’far, MA
            Matakuliah                 : Akhlak Tasawuf

TEMA                                    : Tobat,warak,zuhud
           
BUKU                                    
Identitas Buku                  : Ja’far, Gerbang Tasawuf: Dimensi Teoretis dan Praktis   Ajaran Kaum Sufi(Medan: Perdana Publishing, 2016)
Sub 1 : Tobat
Sub 2 : Warak
Sub 3 : Zuhud


Tobat
            Istilah tobat diartikan sebagai berbalik dan kembali kepada Allah dari dosa seseorang untuk mencari pengampunan-Nya , dan istilah ini telah dijelaskan oleh para sufi dalam karya-karya mereka. Dzun Nun al-Mishri menegaskan bahwa tobat dibagi menjadi tiga: “tobat kaum awam (al-amm) yakni tobat dari dosanya (taubah min al-zunubi); tobat orang terpilih (al-khash) yakni tobat dari kelupaannya (al-ghaflah); dan tobat para nabi yakni tobat dari kesadaran mereka atas ketidakmampuan untuk mencapai apa yang telah dicapai orang lain. Menurut al-Qusyairi, tobat adalah awal pendakian dan maqam pertama bagi sufi pemula . Menurutnya, tobat adalah kembali dari sesuatu yang dicela syariat menuju kepada sesuatu yang dipuji syariat...tobat diharuskan memenuhi tiga syarat yaitu menyesali atas pelanggaran yang telah dibuat , meninggalkan jalan licin (kesesatan) pada saat melakukan tobat, dan berketetapan hati untuk tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran serupa. Junaidi al-Baghdadi mengatakan bahwa “tobat memiliki tiga makna, yakni penyesalan, tekad meninggalkan segala larangan Allah Swt., dan berusaha memenuhi hak-hak semua orang yang pernah dizalimi.(Ja’far 2016:60)   
            Setelah bertobat dari dosa-dosa , orang yang bertobat hendaknya meletakkan diri pada perasaan antara takut dan berharap. Memiliki harapan agar Allah menerima tobatnya dengan karunia dan belas kasinya serta memiliki pula perasaan takut sekiranya Allah swt. Tidak menerima tobatnya lantaran apabila tidak dilakukan secara sempurna sesuai dengan tata cara yang diperintahkan oleh Allah, maka ia tidak bertobat kepada Allah secara benar.

Warak
          Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, warak adalah menjaga diri dari perbuatan dan barang haram dan syubhat. Menurutnya, ada tiga derajat warak, yakni menjauhi keburukan karena hendak menjaga diri, memperbanyak kebaikan dan menjaga iman; menjaga hukum dalam segala hal yang mubah, melepaskan diri dari kehinaan, dan menjaga diri agar tidak melampaui hukum dan menjauhi segala sesuatu yang mengajak kepada perpecahan. (Ja’far 2016:63)
            Syubhat adalah tidak jelas halal dan haramnya. Contohnya berjualan ditempat prostitusi, jualannya halal tapi tempatnya yang haram. Ada lagi ketika di undamg ke acara pesta, saat makan... seorang sufi biasanya tidak mau makan karena tidak jelas hasil dari membuat acara pesta tersebut apakah halal atau haram.

Zuhud (al-alzuhd)
            Menurut Abu Ali al-Daqaq Zuhud adalah sikap anti kemewahan dunia. Dan menurut Ibn Khafif tanda-tanda zuhud adalah merasa senang meninggalkan harta benda, sedangkan makna zuhud adalah hati merasa terhibur meningggalkan berbagai bentuk kehidupan duniawi dan menghindarkan diri dari harta benda.Sebagian ulama,kata al-Qusyairi, zuhud adalah jiwa merasa tenang meninggalkan kehidupan dunia tanpa keterpaksaan. Al-Ghazali berpendapat zuhud adalah sikap tidak menyukai dunia karena ingin berpaling kepada akhirat.(ja’far 2016:66,67)
            Keimanan yang kuat dan selalu ingat bagaimana ia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat guna mempertanggung-jawabkan segala amalnya, yang besar maupun yang kecil, yang tampak ataupun yang tersembunyi. Ingat! betapa dahsyatnya peristiwa datangnya hari kiamat kelak. Hal itu akan membuat kecintaannya terhadap dunia dan kelezatannya menjadi hilang dalam hatinya, kemudian meninggalkannya dan merasa cukup dengan hidup sederhana. Merasakan bahwa dunia itu membuat hati terganggu dalam berhubungan dengan Allah, dan membuat seseorang merasa jauh dari kedudukan yang tinggi di akhirat kelak, dimana dia akan ditanya tentang kenikmatan dunia yang telah ia peroleh.

Kesimpulan
Tobat, jika bersungguh-sungguh bertobat kepada Allah, insya Allah tobatnya akan diterima oleh Allah. Dengan syarat tidak mengulangi perbuatannya lagi. Wara’, berhati-hati dalam melilih haram dan halalnya, baik itu benda maupun perbuatan. Zuhud, meninggalkan kemewahan dunia dengan hidup sederhana dan beralih untuk akhiratnya.

Relevansi dengan Bidang
Dalam ilmu pemrogramam komputer kita harus sangat teliti dan berhati-hati dalam membuat code program, karena jika tidak berhati-hati program akan eror. Begitu juga dengan keamanan komputer kita harus berhati-hati supaya tidak dibobol orang lain.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar